BERKENALAN DENGAN BAUTASIK CHILDREN SPEAKING SERI 2 "MODEL BELAJAR BAHASA IBU"

  • Jun 16, 2025
  • KOMUNITAS INFORMASI MASYARAKAT KABUNA

Kabuna - BCS dalam pembelajarannya menggunakan Model Belajar Bahasa Ibu. Namun sebelum kita ketahui lebih jauh, mengapa BCS menggunakan model belajar Model Belajar Bahasa Ibu, mari terlebih dahulu kita coba mengenalnya. Dalam dialog dengan bapak Yance Kun, motivator BCS, secara garis besar dapat kami gambarkan apa yang dimaksud dengan Model Belajar Bahasa Ibu sebagai berikut.

Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dikuasai oleh seorang anak dalam sebuah keluarga karena bahasa tersebut digunakan dalam keluarga sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Untuk mengetahui bahasa yang digunakan oleh para anggota keluarganya, tak seorang pun dalam keluarga yang berlaku sebagai pengajar/guru bahasa itu kepada si anak. Yang terjadi adalah semua anggota keluarga selalu berbicara setiap saat, si anak hanya mendengar, kata-kata yang sering didengarnya perlahan-lahan tersimpan dalam memorinya dan ia mulai mencakapkannya sedikit demi sedikit hingga menjadi sempurna. Pembicaraan anggota keluarga tidak pernah punya tema yang teratur. Apa yang menjadi urusan dan kepentingan anggota keluarga, itulah yang dibicarakan. Maka si anak sebagai pembelajar awal hanya mengikuti alur pembicaraan anggota keluarganya saja. Ia tidak pernah meminta, apalagi menuntut agar pembicaraan mereka tematis, perlahan-lahan diucapkan, dibuatkan pengulangan bila ia kurang menangkap ucapan. Yang pasti, telinga anak terus terbuka untuk terus mendengar.

Dari kebiasaan berbicara di rumah dan lingkungan sekitar si anak, dengan hanya terus mendengar lalu terbentuklah kemampuan berbicara perlahan-lahan. Pertama-tama satu suku kata, menuju kata, dan kalimat, walau kadang disertai ucapan yang masih kurang jelas dan tepat. Tetapi yang pasti terjadi adalah tanpa adanya seorang pribadi pun yang bertugas tetap mengajar berbicara, pembicaraan selalu tidak pernah teratur, tetapi anak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi itu dan dapat berbicara. Lebih dari itu, waktu yang dibutuhkan untuk lancar berbicara oleh seorang anak terjadi antara satu sampai tiga tahun. Silakan bandingkan waktu ini dengan lamanya kita belajar bahasa Inggris dan kefasihan kita dalam berbicara.

Salah satu kekuatan alami dari kecepatan berbicara bahasa ibu adalah insting untuk bisa masuk dalam suasana bahasa ibu tersebut. Dorongan ini walau sama sekali tak disadari tapi ia begitu kuat mendorong sehingga si anak cepat sekali dalam berbicara bahasa ibunya. Dengan mampu berbicara bahasa ibu, si anak merasa diterima dalam komunitasnya. Karena tanpa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa ibu, si seakan berada di luar komunitasnya, ia akan merasa asing. Dengan menguasai bahasa ibu, si anak menguasai komunitasnya.

Untuk menguasai bahasa ibu, tidak dibutuhkan penyusunan program belajar, tidak dibutuhkan kurikulum, tidak dibutuhkan metode ajar. Belajar bahasa ibu berjalan alami sebagaimana dari jaman dahulu kala sudah terjadi. Orang tua dan yang lebih tua terus berbicara, si anak terus mendengar dan kemampuan berbicara akan terjadi dengan sendirinya dalam waktu yang relatif sangat singkat. Belajar bahasa ibu terjadi secara alami, tidak ilmiah, tidak terstruktur. Belajar bahasa ibu hanyalah sebuah model sejak jaman purba kala dan tetap update hingga saat ini. Orang tua si anak yang baru lahir walau bergelar sarjana pendidikan bahkan sampai digelari profesor pendidikan pun anaknya dapat berbicara bahasa ibunya dengan model belajar yang sama. Profesor pendidikan tidak mampu menyusun kurikulum untuk mengajari anaknya yang baru lahir untuk bisa berbicara bahasa ibunya.

Model belajar bahasa ibu adalah sebuah model yang tidak akan tergantikan dan tak terbaharui sampai kapan pun dan oleh siapa pun. Seorang profesor kurikulum pendidikan sekali pun tidak mampu menyusun kurikulum ajar bicara bahasa ibu.

Secara ringkas kami coba menguraikan apa yang digambarkan oleh bapa Yance tentang Model Belajar Bahasa Ibu itu. Mengapa belajar bahasa ibu hanya disebut sebuah model karena:

  1. Tidak pernah diprogramkan
  2. Tidak ada kurikulum
  3. Tidak ada metode
  4. Tidak ada target
  5. Tidak ada paksaan bagi yang belajar
  6. Tidak ada batas waktu
  7. Tidak ada guru/pengajar bahasa ibu
  8. Tidak menulis dan membaca
  9. Tidak diajarkan secara langsung
  10. Selalu ada yang berbicara bahasa ibu
  11. Tidak ada bahasa rujukan
  12. Tidak ada anak bodoh dan anak pintar atau tidak ada perengkingan
  13. Tidak pernah ditemui bahwa ada yang stress dalam mempelajari bahasa ibunya

Penentu suksesnya belajar bahasa ibu adalah:

  1. Selalu ada pembicara bahasa tersebut.
  2. Si anak dapat dan terus mendengarkan pembicaraan
  3. Adanya dorongan intuitif untuk dapat masuk dan terlibat dalam komunitasnya. Di sini bahasa menjadi salah satu syarat mutlaknya.

 

KIM LINA & OKTO