DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PENGGUNAAN GAWAI (HP) TERHADAP PERILAKU ANAK

  • Jul 02, 2025
  • KOMUNITAS INFORMASI MASYARAKAT KABUNA

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, setiap orang dengan bebas menggunakan teknologi tanpa memandang usia, baik itu Orang Dewasa, Remaja, dan anak-anak. Sejak lahir anak sudah di suguhkan dengan gawai atau handphone (HP) misalnya ketika bayi menangis orang tuanya akan segera memutarkan lagu anak-anak dari gawainya agar supaya bisa tenang dan tidak tantrum. Tidak hanya ketika bayi itu menangis, orang tua juga akan menggunakan gawai untuk membujuk anaknya dalam berbagai situasi misalnya saat makan, saat tidur, saat bermain dan lain sebagainya. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyudutkan peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya, tetapi hanya memberikan sedikit informasi tentang pengaruh penggunaan gawai terhadap prilaku anak-anak. 

Sebagai manusia sosial pasti tidak lepas dari gawai. Kita menggunakan gawai sebagai alat untuk melakukan komunikasi dan berbagi informasi dengan sesama tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Secara sederhana gawai (HP) merupakan alat komunikasi yang menggunakan fitur yang berbeda dengan alat komunikasi lainnya. Penggunaan gawai sangat berpengaruh terhadap pola perilaku seseorang baik itu orang dewasa maupun anak-anak, karena gawai memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses dan mendapatkan informasi secara cepat dan tidak membutuhkan waktu yang lama seperti media konvesional lainnya.

Dengan perkembangan zaman saat ini, penggunaan gawai lebih banyak di konsumsi oleh anak-anak usia Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah karena bagi mereka gawai bukan hanya alat elektronik yang digunakan sebagai media informasi, tetapi juga sebagai media untuk belajar, bahkan sebagai media hiburan (bermain). Gawai juga dapat bermanfaat bagi anak-anak yaitu sebagai sarana untuk mengembangkan imajinasi, melatih kecerdasan, menumbuhkan rasa percaya diri untuk berekspresi, dan sebagai saran untuk memecahkan masalah (problem solving). Sebaliknya, gawai juga dapat berdampak negatif terhadap perilaku anak-anak seperti mengisolasi diri dengan lingkungan sekitar dalam artian bahwa anak-anak tidak mau melakukan interaksi sosial dengan orang-orang yang ada disekitarnya seperti teman dan bahkan keluarga. Menurunnya prestasi belajar anak di sekolah, banyak kasus yang sering kita jumpai dalam lingkungan sekitar kita, misalnya ada seorang anak yang berprestasi didalam kelas, ia selalu mendapatkan juara satu umum, namun ketika ia mulai mengenal gawai prestasinya didalam kelas mulai menurun dan bahkan ia tidak mendapat predikat juara satu umum lagi seperti biasanya. Contoh kecil diatas menjadi salah satu ilustrasi dari pengaruh penggunaan gawai terhadap prestasi anak di sekolah, anak lebih mudah mencerna informasi yang ada di platform media sosial dari pada materi yang di dapatkan di sekolah.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukan bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telpon seluler (gawai), sementara 35,57 persen lainnya mengakses internet. Jika data diatas dirincikan per kelompok usianya, maka terdapat 5,88 persen anak di bawah usia 1 tahun yang sudah menggunakan gawai dan 4,33 persen anak di bawah usia 1 tahun yang mengakses internet pada tahun 2024. Kemudian terdapat 37,02 persen anak usia 1-4 tahun dan 58,25 persen anak usia 5-6 tahun yang menggunakan telpon genggam, sedangkan 33,80 persen anak usia 1-4 tahun dan 51,19 persen berusia 5-6 tahun tercatat telah mengakses internet. Bahkan di daerah tertinggal, anak usia 13-14 tahun sudah kecanduan mengakses media sosial. Dari data diatas menunjukan bawah penggunaan gawai di kalangan anak-anak sangatlah masif mulai dari usia 1 -14 tahun, bahkan mereka sudah mengakses internet melalui gawai mereka.

Penggunaan gawai secara terus menerus akan berdampak buruk bagi pola perilaku anak dalam kesehariannya, anak-anak yang cenderung menggunakan gawai akan menjadi kecanduan dan menjadikan gawai sebagai kegiatan rutin sehari-harinya. Hal ini sangat mengkawatirkan, karena mental pada fase anak-anak tidaklah stabil dan mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Oleh karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam mengontrol anak-anak saat menggunakan gawai, agar tidak meningkatnya perilaku konsumtif anak terhadap gawai seperti pembatasan penggunaan gawai oleh anak-anak.

Berikut adalah dampak positif dan dampak negatif penggunaan gawai bagi perilaku anak-anak;

  1. Dampak Positif
  • Mengembangkan imajinasi anak-anak. Penggunaan gawai dapat memberi ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan pikirannya terhadap apa yang diinginkannya seperti menggambar, bernyanyi, mengikuti karakter yang disukainya dan lain sebagainya.
  • Melatih kecerdasan anak. Penggunaan gawai juga dapat meningkatkan kecerdasan anak, namun tergantung dari cara orang tua mengarahkan anak pada konten yang memberikan nilai edukasi seperti mengenal huruf, menyebutkan huruf, menulis huruf, mengenal hewan, permainan olahraga, menggambar, bernyanyi, dan konten lainnya yang dapat meningkatkan kecerdasan anak.
  • Penggunaan gawai juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri anak akan tumbuh ketika orang yang ada disekitarnya memberikan respon positif, misalnya anak akan merasa percaya diri ketika ia bernyanyi, menari, dan mengikuti bahasa dari konten yang dilihatnya di gawai. Ketika orang lain memberikan respon positif terhadap bakat anak, maka secara tidak langsung akan meningkatkan rasa percaya diri untuk berekspresi di lingkungan masyarakat.
  • Meningkatkan kemampuan membaca, menghitung, dan memecahkan masalah (problem solving). Hal ini membutuhkan pendampingan dan pengawasan orang tua agar konsentrasi anak tidak terpecah ke hal yang lain. Anak menumbuhkan rasa keingintahuannya tentang hal-hal baru yang di amatinya saat bermain gawai dan menumbuhkan kesadaran belajar dengan sendirinya tanpa paksaan dari orang tua.
  • Mempermudah komunikasi. Gawai memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk melakukan komunikasi dengan orang lain tanpa harus bertemu secara langsung. Hal ini juga mempermudah anak untuk melakukan interaksi dengan teman-temannya yang berbeda tempat melalui fitur yang tersedia di gawai seperti video call dan telepon yang tersedia diberbagai aplikasi media sosial.

 

  1. Dampak Negatif

Penggunaan gawai yang berlebihan dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku anak yaitu :

  • Penurunan konsentrasi anak saat belajar. Penggunaan gawai berlebihan akan berpengaruh terhadap konsenterasi anak saat belajar di rumah maupun di kelas, anak tidak lagi fokus pada pelajaran, tetapi hanya teringat dengan gawainya. Misalnya anak teringat dengan karakter yang ada di game, menonton kartun atau film kesukaannya, dan berkomunikasi dengan teman-temannya.
  • Perkembangan otak. Dampak gawai terhadap perkembangan otak anak terlihat dari respons mereka saat gawai diambil, seperti menangis, marah, atau bertengkar, mengucapkan kata kasar, dan bahkan tantrum yang berlebihan. Hal ini dipengaruhi oleh pola pemberian gawai oleh orang tua tidak ada batas waktu, misalnya ketika anak menangis orang tuanya langsung memberikan gawai untuk membuat anak tenang, saat anak makan, saat anak mau tidur, dan kegiatan lainnya.
  • Aplikasi yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak aplikasi atau fitur yang tidak sesuai dengan usia anak-anak karena mengandung konten kekerasan, bahasa kasar, atau konten-konten dewasa yang dapat mempengaruhi perilaku dan perkembangan emosional mereka. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi, sehingga rentan meniru atau terpapar hal yang tidak pantas dari gawai yang mereka mainkan.
  • Menurunnya kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya ditandai dengan kurangnya minat anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau lingkungan sekitar. Anak lebih memilih bermain dengan gawai, sehingga keterampilan komunikasi, empati, dan kerja sama tidak berkembang secara optimal.
  • Perkembangan kognitif anak terhambat. Perkembangan kognitif anak terhambat ketika kemampuan berpikir, memahami, mengingat, dan memecahkan masalah tidak berkembang secara optimal. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya stimulasi, penggunaan gawai yang berlebihan dan minimnya interaksi sosial dengan lingkungan.
  •  Menggangu kesehatan mata anak. Penggunaan gawai yang berlebihan dapat merusak penglihatan anak, hal ini membutuhkan pengawasan dari orang tua dengan membatasi waktu penggunaan gawai oleh anak.

Penggunaan gawai yang masif di kalangan anak, meskipun memiliki manfaat seperti meningkatkan kreativitas dan kecerdasan, juga membawa dampak negatif serius. Dampak tersebut meliputi penurunan konsentrasi belajar, hambatan perkembangan kognitif dan sosial, kecanduan, serta paparan konten yang tidak sesuai usia. Oleh karena itu, peran aktif orang tua dalam mengawasi dan membatasi penggunaan gawai sangat penting demi menjaga tumbuh kembang anak secara seimbang.