Kaka Gonza Putra Kabuna, Sudah Berangkat untuk Studi di China. Ayo Anak-Anak Kabuna, Kita Susul!

  • Oct 11, 2025
  • Yohanes Kun

Perjuangan panjang dalam persiapan diri dengan melewati dua tahapan tes, akhirnya sampai ke puncaknya. Waktu untuk berangkat ke Negeri China, pun tiba. Acara pelepasan putra Kabuna yang penuh bahagia dalam suasana haru sangat mendalam, bersama kesebelas temannya oleh Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT, sungguh terjadi. Semoga ada putra-putri Kabuna yang menyusul.

Malam itu, Senin (06/10/2025) di Kedai Hopeng Oesapa Kupang, acara pelepasan oleh INTI NTT kepada 11 putra-putri terbaik NTT bersama Gonza dari desa Kabuna terjadi. Malam itu Gonza, putra Kabuna itu, dipercaya mewakili kesebelas temannya memberi kesan dan pesan. Putra Kabuna, hebat! Sedikit tentang malam itu. Suasananya diliputi rasa bangga dari masing-masing calon mahasiswa Nantong, para orang orang tua dan INTI NTT. Kebahagiaan yang sangat luar biasa itu digenangi rasa haru yang sangat mendalam, yang tidak mampu dijelaskan, kecuali oleh penjelasan hati mereka semua yang larut dalam suasana itu. Rasa haru semakin dalam, ketika lagu “Doa Seorang Anak” dilantunkan.

Gonza resmi berangkat ke China. Tanggal 7 Oktober, mereka terbang ke Jakarta. Ketika berita ini ditulis, Gonza bersama kesebelas teman masih  berada di Jakarta. Gonza ketika dikonfirmasi per voicenote WA tentang situasi di Jakarta dan kapan lanjut ke Cnina, mengatakan, “I really enjoy my first time living in Jakarta. It’s very fun. We’ll continue our trip to China on October 14th” (Saya sungguh menikmati kehidupan pertamanya di Jakarta. Sangat menggembirakan. Kami akan terbang ke China pada 14 Oktober 2025).

Untuk bisa tembus ke China banyak hal yang sudah dipersiapkan sejak masa kecil oleh kedua orang tuanya Bpk. Adrianus Yoseph Laka dan mama Maria Fatima Abuk Fouk. Di Sekolahkan di Sekolah Sta. Angela sejak TK, SD, SMP hingga tamat SMA. Selain disekolahkan di Sekolah berkualitas, berbagai latihan dan pendidikan pengembangan bakat didorong oleh Bpk. Costa dan mama Fat, demikian panggilan akrab kedua ayah dan ibu Gonza untuk Gonza jalani. Bakat luar biasa yang akhirnya terwujud adalah sudah menjadi organis piawai di usia remaja. Gonza menjadi salah satu oraganis bagus di Paroki St. Yohanes Pemandi Haliwen. Terima kasih Gonza, sudah pernah mengiringi umat parokimu dalam berbagai perayaan ekaristi. Umat parokimu menanti lagi mainan jarimu, ketika sudah sukses belajar di China, nanti. Tidak hanya bisa bermain piano, Gonza pun bisa memainkan alat musik gitar dan biola dengan sangat baik. Selama masa persiapan tes ke China, Gonza ditanya, mengapa tidak memilih jadi musisi saja? Gonza dengan lugas menjawab, “Saya memilih belajar dan ingin menjadi ahli Sofware Engineering saja. Musik akan tetap menjadi bagian hidup saya dan teman setia  saya di kala saya merasa jenuh dalam belajar. Ketika saya bermain musik, saya merasa fresh untuk belajar lagi.” Luar biasa, Gonza! Hal berikut, dari kedua orang tua Gonza dalam bentuk dukungan moril dan kerohanian adalah doa tak kunjung berujung bagi putra-putra mereka.

Bagi yang ingin menyusul jejak Gonza, dan terutama putra-putri Kabuna, kuncinya adalah belajar untuk memiliki kemampuan akademis yang cukup dan lebih dari itu belajar bahasa Inggris untuk bisa berkemampuan bahasa Inggris aktif (lancar berbicara). Untuk dapat berbahasa Inggris aktif, walau mungkin masih jauh dari sempurna, di Kabuna sudah ada Bautasik Children Speaking (BCS),  secara gratis. Sekarang, kursus bahasa Inggris dimanapun tidak pernah akan didapatkan yang bersifat gratis. Maka  jangan buang kesempatan, persiapkanlah kemampuan berbahasa Inggris anak-anak kita sejak dini. Gonza, untuk bisa studi ke China, bersiap bersama BCS selama dua bulan penuh. Maka yang lebih lama waktu persiapannya, pasti akan semakin baik.

Seturut sharing ibu Fat, ibundanya Gonza sesuai yang diperolehnya dari INTI NTT pada saat acara pelepasan kepada KIM,  bahwa bagi anak-anak yang belajar ke China ini, berbagai peluang ke depan sudah terbuka bagi mereka. Peluang pertama setelah lulus dari studi tingkat pertama di Nantong College, mereka boleh bekerja di China bagi yang ingin tetap bekerja di sana. Peluang ini sangat mungkin karena,  program ini penuh dibiayai oleh China, maka lulusannya ini tidak harus pulang bekerja di Indonesia. Lulusan pun boleh bekerja di negara lain bila dibutuhkan. Lulusan pun boleh pulang kembali ke Indonesia untuk bekerja di tanah air. Peluang berikut adalah terbukanya kesempatan studi ke level S1, S2 dan S3. Lanjut ke studi ke level lebih tinggi ini pun dalam bentuk bea siswa penuh dari China.

Lebih lanjut cerita ibu Fat, yang sudah menjadi anggota group para orang tua bea siswa Nantong dan INTI NTT, bahwa selama kuliah di Nantong College of Science and Technology, para penerima bea siswa tidak boleh bekerja selama waktu kuliah. China telah memberi biaya kuliah penuh, agar peserta program hanya fokus pada belajar saja hingga selesai.

Untuk diketahui, dalam tahun ajaran 2026 yang akan datang, INTI NTT, berusaha agar jumlah kuota calon mahasiswa ke Nantong College of Science and Technology asal NTT bisa bertambah, minimal berjumlah 20 orang.

Semoga tulisan ini dapat memotivasi banyak putra-putri, terutama putra-putri Kabuna untuk mempersiapkan diri menyusul langkah Gonza. Kemampuan kebanyakan kita secara ekonomis untuk belajar lebih tinggi, apalagi ke luar negeri sangat tidak memungkinkan, bila harus membiayainya sendiri. Tetapi ketika anak-anak kita persiapkan dengan baik dalam belajar bahasa Inggris, biaya pendidikan di perguruan tinggi yang tak mampu kita biayai, akan mereka sendiri biayai. Tugas kita orang tua, cukup mendorong anak-anak untuk bersiap sejak dini.

(Kim Kabuna/Yohanes Kun)