KENAL LEBIH JAUH DENGAN KEPALA DESA KABUNA
- Aug 15, 2025
- KOMUNITAS INFORMASI MASYARAKAT KABUNA
KIM Kabuna _ Desa Kabuna di masa kepemimpinan Adrianus Yoseph Laka, S. Tp telah menorehkan berbagai prestasi luar biasa. Prestasi-prestasi yang diukir bukan hanya di tingkat kabupaten dan propinsi melainkan hingga ke tingkat nasional. Kabuna telah membawa kebanggaan bagi kabupaten Belu dan provinsi NTT sekarang. Secara pribadi, bapak Adrianus Yoseph Laka, S. Tp, telah menjadi seorang kepala desa rasa nasional.
Atas berbagai prestasi tersebut, maka tidak berlebihan bagi KIM Kabuna untuk sedikit mengurai tentang siapa sesungguhnya kades fenomenal dari Kabuna itu. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda.
1. Keluarga dan kisah masa kecil
Adrianus Yoseph Laka, S.Tp, begitulah nama lengkap sosok fenomenal, kepala desa Kabuna periode 2019-2027. Dalam kesehariannya sejak kecil, kades Kabuna lebih dikenal dengan sapaan Kosta Alo, baik dalam keluarga maupun oleh masyarakat desa Kabuna. Bapak Kosta menikah dengan pujaan hatinya ibu Maria Fatima Wilhelmina Abuk Fouk, S. Kep, Ns, M. Kep dan dikaruniai dua orang putra Gonza dan Torano.
Bapak Kosta dilahirkan 50 tahun silam, tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1973 di Naitoken – Fatubenao, dalam sebuah keluarga besar dengan jumlah saudara 8 orang dari ayah Fransiskus Laka dan mama Theresia Bete. Enam (6) bulan setelah dilahirkan, beliau langsung diadopsi oleh bapak Johanes Alo Baun dan mama Theresia Sose Bili yang sesungguhnya berstatus sebagai kakek dan neneknya yang tinggal di Haliwen. Bapak Johanes dan mama Theresia tidak mempunyai anak sehingga Kosta kecil lebih dianggap sebagai anak, bukan cucu, sebaliknya mereka pun disapa bapak dan mama oleh cucu Kosta.
2. Dua kutub pengalaman masa kecil hingga remaja
Bapak Johanes Alo Baun dan mama Theresia Sose Bili adalah dua sosok yang menanamkan berbagai hal dalam hati dan membentuk kepribadian si Kosta Alo kecil. “Bapak dan mama adalah dua figur yang sangat inspiratif untuk diri saya. Tentang cinta, punya kepedulian tinggi, mengasihi sesama, memberi tanpa mengharap balasan, si Kosta kecil sungguh dapati dan pelajari di Haliwen dari figur kekek dan neneknya. “Yang saya dapatkan sebagai bekal hidup adalah bapak dan mama selalu bersedia membantu dan menyelamatkan banyak keluarga kami di kampung tanpa harap balasan apapun”, demikian kenang bapak Kosta tentang kedua orang tuanya yang telah tiada itu.
Di balik pengalaman dan pelajaran berharga yang si Kosta kecil dapatkan dari orang tuanya di Haliwen tentang cinta, peduli sesama, hidup berbagi tanpa mengharap imbalan, ternyata ada pengalaman yang juga mencemaskan dalam perkembangan si Kosta kecil ke depan. Menurut cerita tetangga dan dibenarkan oleh beliau sendiri, si Kosta kecil adalah anak yang sangat dimanja di masa kecil hingga usia remaja. Ketika anak-anak usia sebayanya masih harus melakukan pekerjaan di rumah sebelum bermain, si Kosta kecil justru hanya tahu bermain dan tidak bekerja sama sekali. Hidupnya masa itu hanya diisi dengan bangun tidur, bermain, makan dan tidur lagi. Salah satu hobi masa kecilnya yang cukup banyak menghabiskan waktu adalah fiti burung (melempar burung menggunakan katapel). Sekilas melihat perlakuan di masa kecil kita bisa saja berpikir bahwa pribadi Kosta kecil kelak akan bertumbuh menjadi pribadi bermental enak, mengharap gampang. Tapi yang dialami dan dilihat pada diri Kosta yang satu ini sungguh berbeda. Kini bapak Kosta tidak pernah menunjukkan mental itu sama sekali. Beliau adalah seorang yang penuh dedikasi dengan cinta dan menjadi seorang pekerja keras dengan kemauan tinggi, tidak bermental cari enak dan bergantung pada orang. Lalu pertanyaan lanjutan bagi kita, dimana dan sejak kapankah dua pengalaman kontradiktif pada diri si Kosta kecil terbentuk menjadi pribadi pekerja keras, tidak bergantung dan bermental enak? Mari kita ikuti cerita selanjutnya!
3. Momen dan pribadi-pribadi pengarah menuju titik balik:
Sudah disinggung di atas bahwa keseharian si Kosta kecil adalah bermain, bermain dan bermain. Tidak pernah disuruh untuk bekerja seperti teman-teman sebaya lainnya yang harus terlebih dahulu bekerja sebelum bermain. Ketika bertumbuh menjadi remaja pun, Kosta remaja tetap saja hidup bebas tanpa ada aturan di rumah yang mengikat dan mengaturnya hingga ia berangkat untuk sekolah di Blambangan Jawa Timur. Dari pengalaman ini maka kita juga ikut sepakat bahwa Kosta remaja akan hancur di Blambangan, Kosta remaja akan bertumbuh menjadi pribadi tak terkendali. Begitu tiba di Jawa, ia tinggal di kos di bawah pengendalian diri sendiri tanpa ada yang mengatur. Tetapi di saat itulah rasa manjanya mulai perlahan tergerus karena tinggal sendiri di tanah orang, niat harus selesai sekolah dengan sukses dan ingat bapa mama, dua sosok tua di Haliwen yang semakin renta ternyata menyadarkannya. Niat kerja keras waktu studi semakin menjadi dan semakin kuat ketika saat kuliah di Malang, ketika ayahnya meninggal sebelum beliau selesai. Figur mama-nenek seorang diri yang lanjut membiayai sekolahnya itu yang semakin membangkitkan daya juangnya untuk harus selesai secara sukses dan memberikan kebahagiaan kepada mamanya dan keluarga.
Tempat berikut yang ikut memberi andil menjadikan karakter dan kepribadian bapak Kosta semakin menjadi lain, menjadi pribadi yang selain mulai belajar menjadi pekerja keras tetapi pribadi yang percaya dan menyandarkan seluruh hidup dan usaha kepada Tuhan adalah ketika kembali ke Haliwen. Beliau mulai menghadiri perayaan ekaristi (ibadat tertinggi orang katolik). Dikisahkan, ketika hari itu beliau hadir misa dan sesudahnya, ada pemilihan kepengurusan OMK yang baru (waktu itu nomen klaturnya masih MUDIKA), karena bapak Kosta hadir dan sarjana, walau baru datang, beliau langsung secara aklamasi dipilih menjadi ketua MUDIKA paroki Haliwen. Karena menjabat ketua MUDIKA, maka hadir misa setiap hari minggu menjadi rutin baginya. Mudika lalu mempertemukannya dengan ibu Fat, panggilan akrab istri tercinta beliau. Ibu Fat semakin menguatkan hatinya dengan Tuhan. Keduanya kini menjadi tulang punggung urusan keagamaan di Paroki Haliwen. Bapak Kosta menjadi ketua Lingkungan, Ibu Fat bagian seksi musik liturgi paroki Haliwen.
Dalam wawancara KIM dengan beberapa warga Kabuna dan orang luar Kabuna yang mengenal bapak Kosta Alo, kami merumuskannya sebagai berikut: Dilihat dari jabatan, ia hanyalah seorang kepala desa. pribadi yang rendah hati dan sangat menghargai semua orang, pribadi yang cinta dan sangat peduli pada semua orang, cinta lingkungan hidup terutama hutan, pekerja keras, pantang menyerah, jujur dan berintegritas dalam karya, melayani tanpa pamrih, tetapi selalu tegas dalam bertindak
4. Pendidikan:
Dalam bagian ini KIM tidak menceritakan jenjang-jenjang yang pernah dilewati karena pasti semua yang sarjana melewati semua jenjang itu. Yang ingin kami angkat di sini hanyalah yang unik selama sekolah. Kosta kecil sekolah di SDK Wehor selama tujuh tahun. Itu artinya pernah ulang kelas. Menurut carita beliau sendiri, ia tidak tahu baca tulis hingga kelas 4 SD. Karena tidak tahu baca tulis, maka sempat mengulang kelas dan sudah pasti yang namanya juara jauh dari bayangan dan jangkauannya. Anehnya, setelah si Kosta kecil tahu baca tulis, gelar peringkat pertama tidak pernah terlepas dari genggamannya hingga tamat SD. Tingkat SLTA dijalani bapak Kosta selama 5 tahun, dua tahun di Atambua dan 3 tahun di Blambangan - Jawa. Beliau adalah orang Kabua pertama yang sekolah dan tamat SLTA di pulau Jawa.
5. Pengalaman kerja:
Bapak Kosta Alo bekerja pertama dengan LIPI di 2005-2006, dan yang berikut bekerja sebagai THL TBPP (tenaga harian lepas tenaga bantu penyuluh pertanian) selama 15 tahun. Desa Dubesi, kecamatan Nanaet Duabesi 2 tahu, desa Nualai kec. Lamaknen selatan 1 tahun, desa lamaksanulu, kec Lamaknen 8, 5 tahun, Sisanya di Kabuna sampai terpilih jadi kades Kabuna. Ada unik dua di saat kerja sebagai PPL pertanian kabupaten Belu. Mendaftar tes calon Biro kerjasama luar negeri kementerian sekretariat negara dengan JIKA-Jepang untuk ke Jepang dan berhasil ke Jepang selama satu bulan, pada tahun 2009.
Ada hal menarik, kisah keberanian dalam memilih dan memutuskan. Pada tahun 2019, Bapak Kosta dihadapkan dengan tiga pilihan kerja dan hidup. Ada tawaran untuk menjadi anggota legislatif kabupaten Belu, ada tawaran untuk menjadi calon kepala desa Kabuna dan berniat meninggalkan pekerjaan sebagai PPL. Ketika pilihan sudah pasti untuk menjadi calon kepala desa, SK P3K dari Kementerian Pertanian datang dan harus mulai mengurus berkas. Bapak Kosta dengan tegas merelakan SK P3K dan siap menjadi calon kepala desa Kabuna yang belum tentu terpilih. Kebesaran hati dalam memilih akhirnya menghantarkan beliau terpilih menjadi kepala desa Kabuna.
6. Karakter, Kepribadian, dan Prinsip kerja
Bapak Adrianus Yoseph Laka, S.Tp adalah seorang yang sangat sederhana dalam kehidupan, tidak bermental foya-foya walau masa kecilnya sangat dimanja, sangat humanis sehingga mampu akrab dengan siapa saja, pencinta lingkungan, terutama hutan. Kata orang, pencinta lingkungan itu rendah hati.
Dengan berbekal berbagai pengalaman pendewasaan karakter dan kepribadian dalam waktu yang panjang, maka dalam menjalankan tugas sebagai seorang kapala desa, bapak Kosta Alo, selalu mengedepankan pelayanan tuntas, transparan, penuh kasih humanis dari hati kepada warga Kabuna sebagai sahabat yang kadang sampai lupa diri. Dasar orientasi kerja sebagaimana tertuang dalam visi dan misi, bukan sekedar menjadi pengisi syarat menjadi calon desa tetapi sungguh dijadikan landasan kerja dan pelayanannya. Hal itu terbukti lewat berbagai prestasi yang telah digapai.
7. Jabatan hanya Kepala Desa, rasa Nasional.
Secara pribadi, kepala desa Kabuna, lain. Desa Kabuna berada di wilayah 3T, namun banyak prestasi hingga ke tingkat nasional dapat diraih. Karena beberapa raihan prestasi tingkat nasional, kades Kabuna menjadi dikenal dan karenanya, beberapa kali diundang untuk menjadi pembicara tingkat cukup tinggi, bila tidak ingin disebut tingkat nasional. Kades Kabuna secara pribadi memang lain bila dibanding dengan banyak kades lain. Menghadiri pertemuan tingkat nasional sebagai peserta, mungkin banyak yang telah terlibat, tetapi diundang untuk menjadi pembicara nasional, bapak Adrianus Yoseph Laka, S. Tp., kades Kabuna bisa menjalaninya. Untuk hal ini, mungkin tidak berlebihan, bila kami boleh katakan, banyak pejabat dengan level diatas jabatan kepala desa pun, belum tentu dapat undangan tersebut. Bapak Adrianus Yoseph Laka, S. Tp hanyalah sebagai seorang kepala desa namun, rasanya, rasa nasional.
Mari kita lihat beberapa momen ketika kades Kabuna ini, diundang sebagai pembicara lalu masing-masing pembaca boleh menempatkan level kehadirannya sebagai pembicara.
-
Tahun 2022, diundang oleh Perpustakaan Provinsi NTT untuk berbicara tentang Pengelolaan Perpustakaan Desa di Kupang.
-
Tahun 2023, diundang oleh Kampus PKN-STAN dan KPK sebagai pembicara nasional tentang pengelolaan dana desa yang transparan dan tentang pengembangan perpustakaan desa di Jakarta.
-
Tahun 2023, diundang oleh Perpustakaan Nasional sebagai pembicara dalam Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, di Jakarta.
-
Tahun 2023, diundang oleh Perpustakaan Nasional untuk berbicara tentang Pengelolaan Perpustakaan Desa di Yogyakarta.
Semoga profil singkat kades Kabuna di atas dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama kaum muda untuk bermimpi menjadi orang berintergitas tinggi bila memang belum bisa menjadi tokoh berintegritas. Bangunan desa Kabuna kini telah memenuhi standar 3-2-1 untuk ukuran beton, maka bagi yang memimpin Kabuna ke depan, tidak lagi merobah adonan ini.