Tim Juri KOIN Yanlik Berdasi Lakukan Verifikasi Lapangan Inovasi Desa Kabuna

  • Dec 15, 2025
  • Oktovianus Gomes

Kabuna, 15 Desember 2025 – Panitia dan Tim Juri Lomba Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik KOIN Yanlik Berdasi melakukan kunjungan dan verifikasi lapangan di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, pada Senin, 15 Desember 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari tahapan penilaian akhir terhadap inovasi desa Kabuna yaitu KIMUNA (Kim Kabuna Untuk Nusantara) yang berhasil masuk sebagai finalis tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Biro Organisasi Setda Provinsi NTT, Djoese S. Marthins Nai Buti, S. Pt., M.Si yang hadir sebagai perwakilan panitia dan dewan juri, menjelaskan bahwa verifikasi lapangan dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara proposal, presentasi, dan kondisi nyata di lapangan.

“Hari ini kami datang ke Desa Kabuna untuk melihat langsung implementasi inovasi KIM Kabuna. Kami mengecek ketersediaan informasi, proses updating data, serta penyebaran informasi kepada masyarakat, baik melalui website, media sosial, maupun buku-buku informasi yang tersedia di perpustakaan desa,” jelasnya.

Ia menambahkan, Desa Kabuna memiliki keunggulan tersendiri karena perpustakaan desanya pernah meraih penghargaan di tingkat nasional terkait keterbukaan informasi publik. Hal tersebut menjadi salah satu aspek penting yang dinilai dalam kompetisi ini.

Terkait mekanisme penilaian, Djoese menjelaskan bahwa hasil verifikasi lapangan akan sangat menentukan nilai akhir.
“Jika apa yang disampaikan dalam proposal dan presentasi terbukti 100 persen di lapangan, maka nilai tetap. Namun jika hanya terbukti 50 persen atau 25 persen, maka nilai yang sudah diberikan akan dikalikan sesuai dengan tingkat kebenaran yang ditemukan,” tegasnya.

Setelah seluruh proses verifikasi lapangan selesai, dewan juri akan melakukan pleno untuk menentukan kategori pemenang, yaitu Top 10 inovasi terbaik, Top 20, serta 4 inovasi rintisan terbaik. Pengumuman resmi hasil lomba dijadwalkan pada 20 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi NTT di Kupang, dan akan diumumkan langsung oleh Gubernur atau Wakil Gubernur NTT.

“Semua finalis akan diundang ke Kupang. Kita berharap KIM Kabuna bisa masuk ke Top 10 atau minimal Top 20 inovasi terbaik,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Djoese menyampaikan harapannya agar KIM Kabuna terus bekerja secara profesional dan konsisten, terutama dalam hal pembaruan dan validasi data.
“Kecepatan informasi, kualitas data, dan updating yang rutin sangat penting. Data yang valid dan akurat dibutuhkan untuk membangun Desa Kabuna, Kabupaten Belu, hingga Indonesia. Kabuna sudah memulai dengan sistem pendataan yang baik, dan ini harus terus dijaga,” tuturnya.

Ia menutup dengan ajakan semangat pembangunan dari wilayah perbatasan.
“Ayo bangun Kabuna, ayo bangun Belu, ayo bangun NTT, ayo bangun Indonesia dari garda perbatasan. Merdeka!”

Sementara itu, Ketua KIM Kabuna, Yohanes Kun, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam lomba ini lebih dimaknai sebagai ruang pembelajaran dan pengakuan atas kerja-kerja informasi di tingkat desa.

“Sebagai peserta lomba, tentu kita mengharapkan hasil terbaik, tetapi itu bukan tujuan utama. Yang paling penting adalah KIM Kabuna sudah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di NTT sebagai satu-satunya desa yang mengikuti lomba KOIN Yanlik Berdasi dan berhasil masuk dalam 24 finalis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, capaian tersebut sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi KIM Kabuna sebagai institusi kecil di tingkat desa.
“Ke depan, apakah nanti masuk 20 besar, 10 besar, atau bahkan 4 besar, semuanya kami serahkan sepenuhnya kepada tim juri. Sebagai lembaga kecil di desa, tentu ada harapan untuk menjadi juara, tetapi jika tidak pun tidak menjadi persoalan. Yang terpenting, kami sudah masuk 24 besar, dan itu merupakan sebuah kebanggaan besar bagi kami,” tutup Yohanes Kun.

Kunjungan verifikasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi KIM Kabuna untuk terus meningkatkan kualitas layanan informasi publik, khususnya dalam penyediaan data yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses oleh masyarakat, sebagai bagian dari upaya membangun desa dan daerah perbatasan.

(Kim Kabuna/Okto)